Daerah Nasional

Karyawan PT Toba Pulp Lestari Gelar Aksi Unjuk Rasa Tuntut Revisi Kebijakan Pesangon

TOBA, beritapasti.id – Ratusan karyawan PT Toba Pulp Lestari, Tbk (TPL) melakukan aksi unjuk rasa damai di gerbang pintu masuk Mill TPL di Sosor Ladang, Kecamatan Parmaksian, Kabupaten Toba, Selasa (3/3/2026). Aksi ini dipicu pemutusan hubungan kerja (PHK) pasca pencabutan izin Perizinan Berusaha Pemanfaatan Hutan (PBPH) perusahaan pada 20 Januari lalu.

Dalam orasinya, Pangeran Marpaung, mewakili karyawan, meminta pihak manajemen untuk merevisi kebijakan pesangon yang sebelumnya diumumkan sebesar 0,5 x N menjadi 1,75 x N. Kebijakan sebelumnya dianggap sangat merugikan seluruh karyawan, sehingga mereka tetap menuntut agar manajemen memenuhi hak mereka sepenuhnya.

Ribuan karyawan yang hadir berasal dari lima sektor, yakni Aek Nauli, Habinsaran, Tele, Aek Raja, dan Tapsel. Mereka bersepakat akan terus melakukan aksi di lokasi yang sama hingga ada keputusan manajemen terkait tuntutan mereka.

Aksi hari pertama berlangsung dari pukul 08.00 hingga 17.00 WIB. Pada pukul 14.00 WIB, perwakilan manajemen hadir menemui massa, termasuk Direksi PT TPL Monang Simatupang, HRD Hotman Sibuea, Liharman Sirait, Pinondang Marpaung, dan Linggom Dongoran.

Monang Simatupang menyampaikan bahwa pihak manajemen akan memberikan jawaban atas tuntutan karyawan paling lambat 11 Maret 2026. Ia meminta agar karyawan bersabar dan menegaskan bahwa negosiasi terkait pesangon masih bisa dilakukan.

“TPL ini adalah rumah kita bersama. Saat ini izin PBPH sudah dicabut, dan terkait tuntutan karyawan masih bisa dinegosiasikan. Pemerintah mencabut izin, tapi belum ada kebijakan terkait nasib karyawan. Saya percaya kita masih bisa berjuang bersama,” ujar Monang.

Ia menambahkan, keputusan final akan dibahas bersama serikat buruh dan seluruh karyawan sebelum diumumkan. “Kami meminta seluruh karyawan menunggu hingga hari H yang telah ditentukan, yaitu 11 Maret. Kami harap aksi sementara dihentikan karena kita semua masih cinta TPL,” pungkasnya.

Meski demikian, seluruh karyawan menolak jawaban manajemen dan bertekad melanjutkan aksi hingga tenggat waktu yang dijanjikan. “Kami akan tetap di sini menunggu sampai tanggal 11. Ini hidup kami terakhir karena kami akan di-PHK dan menjadi pengangguran. Kami berharap sebelum tanggal 11 sudah ada keputusan dari manajemen. Jarak Jakarta–Toba hanya 2 jam, jadi komunikasi ke pusat bukan hal yang sulit. Apakah pihak manajemen tega melihat kami berdiri di sini hingga tanggal 11?,” imbuh Pangeran Marpaung.

Pada aksi hari pertama, karyawan mengenakan seragam sesuai divisi masing-masing. Aksi berlangsung damai dengan pengawalan pihak kepolisian Polres Toba dan Satuan Pamong Praja Pemkab Toba. (bp-net)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *